Selasa, 17 Juni 2008

BISNIS-KU Tambak Udang




Tambak udang

Sebuah tambak udang adalah sebuah bisnis "aquaculture" dirancang untuk meningkatkan dan memproduksi udang laut atau prawn untuk konsumsi manusia. Pertambakan udang komersial dimulai pada 1970-an, dan produksi tumbuh dengan cepat, terutama untuk memenuhi pertumbuhan permintaan Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa barat. Produksi global total dari udang tambak mencapai lebih dari 1,6 juta ton pada 2003, mewakili hampir 9 milyar dolar AS. Sekitar 75% udang tambak diproduksi di Asia, terutama di China dan Thailand. 25% sisanya diproduksi di Amerika Latin, di mana Brazil merupakan produsen terbesarnya. Negara pengekspor terbesar adalah Thailand.

Pertambakan udang telah berubah dari bisnis tradisional, skala-kecil di Asia Tenggara menjadi sebuah bisnis global. Kemajuan teknologi telah mendorong pertumbuhan udang dengan kepadatan yang lebih tinggi, dan broodstock dikapalkan ke seluruh dunia. Hampir seluruh udang yang dikembangkan adalah penaeid (yaitu, udang dari famili Penaeidae) dan hanya dua spesies udang -- Pacific White Shrimp dan Giant Tiger Prawn; hampir mencakup 80% dari seluruh udang yang dikembangkan. Industri monokultur ini sangat mudah terserang penyakit, yang menyebabkan beberapa pemusnahan dari populasi pertambakan udang. Peningkatan masalah ekologi, terjadinya penyebaran penyakit berkali-kali, dan tekanan dan kritikan dari NGO dan negara konsumen mengubah industri ini pada akhir 1990-an dan biasanya pengaturan yang lebih ketat dari pemerintah. Pada 1999, sebuah program yang ditujukan pada pengembangan dan promosi praktek pertambakan yang lebih terjamin dilaksanakan, termasuk badan pemerintah, wakil industri, dan organsiasi lingkungan.

Sumber : www.id.wikipedia.org




Bangkitnya Udang Windu
Senin, 30 Oktober 2006 | 14:09 WIB

TEMPO Interaktif, KARAWANG:

Sudah beberapa malam Widi Riyanto harus tidur di tambak udang di tepi pantai Desa Ciparage, Kabupaten Karawang, yang sepi. Sebelum matahari terbit, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu harus memanen ribuan ekor udang windu pesanan sejumlah restoran makanan laut di Jakarta.

Udang windu itu berumur 120 hari, yang sudah bisa dipanen dengan harga lumayan tinggi, Rp 51 ribu tiap kilogram. "Rata-rata size 40, tiap kilogram berisi 40 ekor udang seberat 25 gram," kata Widi sambil memamerkan udang yang juga dikenal sebagai udang harimau karena belang-belang hitam di punggungnya itu.

Panen udang windu di Kecamatan Tempuran itu cuma terjadi di tambak Widi dan tim Pusat Penelitian Limnologi LIPI. Ribuan hektare tambak lain di sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa di Kabupaten Karawang itu sebagian besar dibiarkan terbengkalai. Tanahnya pecah-pecah karena kekeringan. Sebagian lagi dijadikan tambak garam.

Peneliti perikanan kelahiran Kebumen itu menyatakan tambak di sana tak lagi memproduksi udang windu sejak 1990-an. Produksi udang yang sempat menjadi primadona kawasan itu pada 1980-an tersebut terus menurun dan tak bisa hidup lama. "Baru usia 40-50 hari sudah mati," kata Widi. "Banyak petani yang putus asa, tak mau lagi usaha tambak udang. Dulu di sini semuanya tambak udang."

Hasil kajian LIPI di pertanian tambak udang Karawang sejak dua tahun lalu menunjukkan kematian udang itu disebabkan oleh penurunan kualitas air dan kerusakan sedimen. Tri Widiyanto, peneliti limnologi LIPI, menyatakan sekarang ini lebih dari 50 persen tambak udang di Indonesia tidak beroperasi, dari Karawang, Indramayu, sampai Lampung.

"Penurunan kualitas air dan kerusakan sedimen itu terjadi akibat tingginya kandungan bahan nitrogen anorganik, senyawa organik karbon, dan sulfida," kata Tri.

Pakar mikrobiologi perairan ini menuturkan, penumpukan senyawa kimia itu berasal dari sisa pakan, kotoran udang, serta pemupukan jangka panjang. Kondisi itu mempengaruhi kandungan senyawa amoniak, nitrit, nitrat, hidrogen sulfida, dan senyawa karbon yang bersifat toksik pada sistem tambak udang.

"Tambak di sini kebanyakan sedimen tua, sudah rusak," kata Tri. "Orang bertambak kan pakai kapur. Itu sudah berapa ton kapur yang masuk? Berapa pakan, nutrien yang tidak bisa dikeluarkan lagi?"

Untuk mengembalikan kondisi tambak, satu-satunya jalan hanyalah bioremediasi, aktivitas organisme untuk mengembalikan lagi proses dekomposisi. Teknik ini menyembuhkan tambak yang "sakit" dengan menambahkan mikroorganisme tertentu. "Mengeluarkan nitrogen dari tambak hanya bisa dilakukan bakteri-bakteri ini," kata Tri. "Kincir air tidak sanggup. Aerojet juga nggak bisa. Harus secara biologis."

Selama tujuh tahun Tri mengumpulkan dan mengisolasi bakteri yang hidup di berbagai tambak udang, dari Lampung, Sulawesi, sampai pantai selatan Jawa. Di laboratorium mikrobiota dan laboratorium hidrodinamika Pusat Penelitian Limnologi LIPI di Cibinong, Tri melakukan seleksi untuk mencari bakteri apa yang paling baik guna menghilangkan hidrogen sulfida (H2S), amoniak, nitrat, dan nitrit.

"Kami juga mendapat bakteri yang mampu menghilangkan senyawa organik," kata peneliti kelahiran Cilacap, 23 April 1963, itu. "Dari situ kami membuat konsorsium, kami inokulasikan, dan kami coba. Inilah salah satu hasilnya."

Pengujian skala laboratorium juga menunjukkan produk bioremediasi buatan Tri dan Widi lebih baik dibanding produk serupa dari Taiwan dan Amerika Serikat. "Ternyata bakteri indigenous dari sekitar tambak daerah tropis Indonesia lebih bagus," katanya.

Sudah dua kali Tri dan Widi panen udang besar ini sejak 2005. Mereka berharap udang windu kembali menjadi primadona di pantai Karawang. Sayang, para petani masih ragu-ragu. Bisnis udang windu bukan bisnis tanpa modal. Untuk meraih omzet Rp 250 juta tiap hektare, mereka harus keluar modal lebih dari separuhnya untuk pakan dan solar.

"Petani masih melihat," kata Tri. "Panen pertama mereka bilang kebetulan. Panen kedua mereka mulai melihat ini bukan kebetulan lagi. Kalau sudah ketiga, mereka baru yakin ini bisa diterapkan."

Sumber : www.tempointeraktif.com


3 komentar:

uguns mengatakan...

Mas Saya orang ciparage salam kenal dari si anak nelayan desa ciparage jaya mampir juga ke blog saya ya mas di http://uguns126.blogspot.com

Dzul Panjul mengatakan...

di jual segera tambak ikan / udang seluas 1 hektar

lokasi, Sekotong, Lombok, NTB

hubungi : 081907666620 / 081915961040

Indoplastik semarang mengatakan...

Jika butuh bahan terpal atau tarpaulins untuk pelapis tambak bisa pesan ke tempat kami pk.
http://www.indoplastik.com

terimakasih